Mata Jelita langsung membelalak setelah mendengar kata-kata Lynx, napasnya tercekat sesaat sebelum wajahnya dipenuhi kegembiraan. "Kau… kau serius, Xiao Ling? Kau menemukan jejak mereka?" tanyanya dengan suara sedikit bergetar.

Lynx mengangguk ringan. "Belum pasti, tapi setidaknya ada petunjuk."

Wajah Jelita berseri-seri, matanya sedikit berkaca-kaca. "Kalau begitu, kita harus segera berangkat! Aku sudah lama menunggu saat ini!" katanya penuh semangat.

***

Malam itu, setelah Kota Huoling kembali tenang, Lynx melangkah menuju Paviliun Bulan Perak untuk menemui Zhen Huan.

Di dalam ruangan yang diterangi lentera lembut, Zhen Huan tengah menikmati secangkir teh hangat saat Lynx memasuki paviliun. Ia menyambut kedatangannya dengan senyum ramah dan memberi isyarat agar duduk di depannya.

"Aku sudah menduga kau akan segera menemuiku," ujar Zhen Huan tenang, menyeruput tehnya sebelum melanjutkan, "Tapi sebelum itu, aku ingin berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan kota ini."

"Itu bukan masalah besar, Tuan Zhen," jawab Lynx datar. "Tapi tujuanku kesini memang untuk menanyakan sesuatu. Seperti yang kau katakan sebelumnya, aku ingin mengetahui tentang ribuan orang yang tiba-tiba muncul di dunia ini tanpa mengetahui apa pun tentang tempat ini."

Zhen Huan menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara. Setelah meletakkan cangkirnya, ia menatap Lynx dengan sorot mata serius, seolah ingin mengetahui apa hubungan pemuda dihadapannya dengan kejadian tersebut. "Tiga tahun lalu, terjadi kegemparan besar di Kerajaan Qingyuan," ucapnya. "Ribuan orang tiba-tiba muncul, mengenakan pakaian aneh, tidak mengetahui aturan dunia ini, tidak mengerti tentang kultivasi, dan mereka tidak bisa menjelaskan tentang asal-usul mereka. Kejadian itu bisa menimbulkan kekacauan besar, jadi Raja Yan Quanyang memutuskan untuk menempatkan mereka di dunia kecil sebagai langkah sementara, sambil merahasiakan keberadaan mereka. Hanya segelintir orang yang mengetahui hal ini."

Lynx mendengarkan dengan seksama, rahangnya mengeras. "Jadi mereka hanya dikurung begitu saja?" tanyanya dengan nada menekan. "Apa yang terjadi pada mereka?"

Zhen Huan menatapnya lekat-lekat, seolah mencoba membaca pikirannya. "Mereka diletakkan di dunia kecil itu agar mereka bisa bertahan hidup dengan layak. Raja sudah menyediakan tempat berlindung dan makanan disana.  Raja Yan Quanyang masih mencari solusi terbaik, karena jika mereka dilepaskan ke dunia luar tanpa bimbingan, itu bisa menimbulkan kepanikan sekaligus ancaman bagi mereka sendiri."

Lynx menghela napas dalam, mencoba menenangkan diri. Namun, sebelum ia bisa berbicara, Zhen Huan melanjutkan,

"Tapi, setahun lalu, artefak tempat dunia kecil itu dicuri. Hingga sekarang, tidak ada yang tahu siapa pelakunya."

Lynx tersentak. "Artefak itu hilang?" sorot matanya tajam. "Siapa yang melakukannya?"

Zhen Huan menggeleng, senyumnya tipis seolah menyembunyikan sesuatu. "Itulah pertanyaan yang belum terjawab. Artefak itu menghilang tanpa jejak dari dalam kerajaan, dan belum diketahui siapa yang terlibat dalam pencurian tersebut. Tapi ada sesuatu yang mungkin bisa membantumu."

Lynx mengepalkan tangannya. "Kau bilang ada sesuatu yang bisa membantuku. Apa itu?"

Zhen Huan menatapnya sejenak sebelum tersenyum samar. Dia sudah mulai bisa memastikan tebakannya mengenai hubungan Lynx dengan para penduduk tersebut. "Pergilah ke Kota Zhurong. Ada seseorang di sana yang sedang menyelidiki kasus ini. Kau pasti akan segera mengenalinya."

Lynx mengerutkan kening. "Siapa orang itu?"

Namun, alih-alih menjawab, Zhen Huan justru memberikan sebuah teka-teki. "Tak perlu buru-buru, Xiao Ling. Saat malam bulan purnama, pergilah ke Rumah Makan Api Emas cabang Kota Zhurong. Kau akan bertemu dengannya di sana."

Lynx menatapnya penuh kewaspadaan. "Kau tidak bisa memberitahuku sekarang?"

Zhen Huan terkekeh pelan. "Terkadang, jawaban lebih berarti jika ditemukan sendiri."

Lynx diam, mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Zhen Huan. Dalam benaknya, sebuah kesimpulan mulai terbentuk, Zhen Huan mengetahui lebih banyak dari yang ia katakan, dan lelaki itu kemungkinan besar telah menebak hubungan dirinya dengan para penduduk tersebut.

Akhirnya, Lynx berdiri dari tempat duduknya. Matanya memancarkan tekad. "Baik, aku akan pergi ke Kota Zhurong."

Zhen Huan mengangguk. "Semoga perjalananmu membawa jawaban yang kau cari."

Lynx berbalik dan melangkah keluar dari paviliun, angin malam yang berhembus dingin tak mampu meredam gejolak dalam hatinya.

***

"Xiao Ling, bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan informasi mengenai suku Surya?" tanya Yun Qing dengan bersemangat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu saat melihat kedatangan Xiao Ling.

Lynx menganggukkan kepala, namun keraguan masih menyelimutinya. Bagaimana cara menginformasikan perihal hilangnya suku Surya kepada Jelita tanpa menambah kekhawatirannya?

"Yun Qing, besok pagi kita berangkat. Kita akan ke kota Zhurong untuk menemui seseorang yang tahu mengenai keberadaan mereka," kata Lynx dengan suara tenang.

"Biarlah perlahan nanti kujelaskan," batin Lynx.

Mendengar hal itu, Jelita merasa bersemangat. Ia tidak sabar untuk berkumpul kembali dengan keluarganya. Ia sudah merindukan ayah, ibu, dan teman-temannya, terutama tetua Drona yang telah mengajarinya teknik pengobatan.

"Mau ke mana kalian berdua, Xiao Ling?" mendadak suara Li Wei terdengar dari belakang mereka.

Lynx menoleh dan melihat Li Wei bersama Li Mei datang menemui mereka.

"Tuan Muda Xiao, terima kasih banyak atas bantuan Anda karena sudah menyembuhkan saya," kata Li Mei sambil menundukkan badan memberikan penghormatan. "Tanpa bantuan Tuan Muda, entah bagaimana nasib saya."

"Nona Li Mei, jangan sungkan. Sudah seharusnya saya membantu karena kebetulan bisa. Nona tidak perlu kaku terhadap saya," kata Lynx sopan.

"Betul, Kakak. Xiao Ling orangnya sangat ramah dan baik hati. Kakak tidak perlu bersikap terlalu sungkan kepadanya," kata Li Wei dengan nada bercanda.

"Tapi hati-hati lho Kak, Xiao Ling ini ternyata sudah memiliki istri dan istrinya adalah Yun Qing," lanjut Li Wei dengan nada menggoda. "Betul kan, Yun Qing? Kamu kenapa merahasiakannya?"

"Li Wei! Diamlah!" kata Li Mei dengan nada menegur pelan setelah melihat ekspresi Lynx dan Jelita.

"Maafkan adikku yang suka tidak bisa menjaga ucapan," kata Li Mei dengan nada malu.

"Sepertinya ada kesalahpahaman di sini," kata Lynx sambil menatap Jelita, berusaha menjelaskan.

"Kesalahpahaman? Maksudnya?" tanya Li Mei dan Li Wei bersamaan.

Jelita, merasa tidak enak hati, segera mendahului. "Kami tidak tahu dari mana Nona Li berdua mendapatkan informasi mengenai kami sebagai suami istri. Yang pasti, hal tersebut tidaklah benar."

Li Wei menyipitkan matanya dan memandang Jelita, mencoba mencerna maksudnya.

Jelita melanjutkan penjelasannya. "Kami berdua datang dari desa Lianhua, tapi kami bukanlah penduduk asli di sana. Untuk menghindari masalah, selama di desa tersebut, kami mengaku sebagai suami istri. Tetapi percayalah, kami tidak pernah bertindak seperti layaknya suami istri," kata Jelita.

Li Mei yang lebih sensitif sebagai wanita merasakan ada nada duka dalam ucapan Jelita, namun dia hanya diam.

Berbeda dengan Li Wei, yang suka bicara terus terang dan suka merasa penasaran. "Kalian tiga tahun bersama tapi tidak melakukan apa-apa? Apa ada masalah dengan..." kata Li Wei sambil memandang ke bagian bawah Lynx.

Li Mei dan Jelita memerah wajah karena memahami ucapan Li Wei yang terlalu terbuka, sementara Lynx hanya terbatuk kecil.

"Tidak... tidak... bukan begitu, Xiao Ling sangat normal," kata Jelita berusaha menjelaskan, karena dia tidak mau kepala sukunya dianggap sebagai pria yang tidak mampu.

"Sangat normal?" tanya Li Wei dengan nada bertanya misterius. "Dari mana kamu tahu kalau dia normal, Yun Qing?" Tanya Li Wei dengan dana bercanda dan mengedipkan sebelah matanya ke Jelita, sambil berusaha menutupi tawanya dengan tangan.

"Hush, Li Wei. Hentikan candaanmu," kata Li Mei menegur adiknya.

Li Wei yang sangat sayang dan penurut kepada kakaknya segera diam dan mengambil sikap seperti meminta maaf. "Maafkan aku Yun Qing, Xiao Ling. Aku hanya penasaran mengenai kalian berdua. Terutama karena kalian sudah sangat membantu keluargaku."

"Li Wei, agar kamu tidak salah paham lagi, itu semua karena Xiao Ling sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya, bernama Leena," kata Jelita sambil berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.

"Leena?" tanya Li Wei dan Li Mei bersamaan, merasa bahwa nama tersebut terdengar sangat aneh dan tidak umum.

